Dalam proses penerbitan buku, ada satu tahap penting yang sering kali luput dari perhatian penulis pemula yakni copyediting. Banyak yang mengira bahwa setelah naskah selesai ditulis, karya tersebut langsung siap dicetak. Padahal, tanpa penyuntingan yang tepat, sebuah buku berisiko mengandung kesalahan bahasa, inkonsistensi gaya, hingga kekeliruan fakta yang dapat mengurangi kredibilitas penulis. Lantas, apa itu copyediting, dan mengapa proses ini sangat penting dalam dunia penulisan dan penerbitan?
Artikel ini akan membahas peran copyediting, manfaatnya, dan alasan mengapa naskah perlu melalui tahap penyuntingan sebelum akhirnya dipublikasikan—baik bagi mahasiswa, dosen, penulis, maupun pembaca umum.
Apa Itu Copyediting?
Secara sederhana, copyediting adalah proses penyuntingan teks oleh seorang Coyeditor untuk memastikan bahwa naskah yang akan diterbitkan memiliki bahasa yang benar, konsisten, dan mudah dipahami. Copyeditor memeriksa berbagai aspek teknis dalam tulisan, seperti:
- Ejaan dan tata bahasa
- Tanda baca
- Struktur kalimat
- Konsistensi gaya penulisan
- Ketepatan fakta (factual accuracy)
- Penggunaan istilah yang seragam
- Kejelasan dan kelogisan paragraf
Copyediting tidak sekadar memperbaiki salah ketik. Pada level profesional, penyunting juga memastikan bahwa naskah mengikuti gaya selingkung (style guide) penerbit, misalnya soal penulisan angka, rujukan, istilah asing, hingga format daftar pustaka.
Dengan kata lain, copyediting membantu menjembatani ide penulis agar dapat tersampaikan secara efektif kepada pembaca.
Perbedaan Copyediting dengan Editing dan Proofreading
Banyak orang masih bingung membedakan tiga istilah ini. Berikut penjelasan ringkasnya:
1. Editing
Editing merupakan tahap penyuntingan yang lebih makro. Editor melihat logika tulisan, alur, relevansi data, kelengkapan argumen, hingga struktur keseluruhan naskah. Jika ada bab yang perlu dipindah, dipadatkan, atau diperluas, hal itu ditangani pada tahap editing.
2. Copyediting
Copyediting bekerja pada aspek mikro: bahasa, detail teknis, dan konsistensi. Fokusnya pada perbaikan yang membuat naskah menjadi rapi dan profesional.
3. Proofreading
Ini adalah tahap akhir setelah layout selesai. Proofreader memastikan tidak ada kesalahan yang tersisa pada naskah yang sudah siap cetak, misalnya typo, paragraf loncat, atau format yang tidak rapi.
Dengan memahami perbedaannya, penulis dapat mengetahui kebutuhan penyuntingan yang tepat.
Kenapa Buku Perlu Disunting?
Baik buku ilmiah, buku ajar, maupun buku fiksi, semuanya membutuhkan copyediting. Berikut adalah alasan utama mengapa proses ini tidak boleh dilewatkan:
1. Meningkatkan Kredibilitas Penulis
Naskah yang rapi dan bebas kesalahan mencerminkan profesionalisme. Untuk mahasiswa dan dosen yang menulis buku referensi atau ilmiah, kredibilitas sangatlah penting. Kesalahan kecil seperti salah ketik atau data tidak konsisten dapat membuat pembaca meragukan kualitas isi buku.
2. Membuat Tulisan Lebih Mudah Dipahami
Kadang penulis memahami ide mereka dengan baik, tetapi belum tentu pembaca memiliki perspektif yang sama. Copyeditor membantu memastikan setiap paragraf jelas, alurnya logis, dan tidak membingungkan.
3. Menjamin Konsistensi
Penulisan istilah asing, akronim, format kutipan, hingga gaya bahasa sering kali tidak konsisten dalam naskah awal. Copyeditor memastikan semuanya seragam sehingga pembaca mendapatkan pengalaman membaca yang profesional.
4. Menghindari Kesalahan Fakta
Dalam buku ilmiah atau nonfiksi, ketepatan fakta adalah hal wajib. Penyunting membantu mengecek ulang nama tokoh, tahun, rujukan, dan istilah teknis agar buku tidak berisi kesalahan data.
5. Meningkatkan Kualitas Akademik dan Penelitian
Bagi mahasiswa dan dosen, memiliki naskah yang terstruktur dan ditulis dengan baik adalah keharusan. Copyediting memastikan karya ilmiah sesuai dengan standar akademik yang benar, terutama jika naskah digunakan sebagai referensi atau materi kuliah.
6. Menjaga Reputasi Penerbit
Penerbit profesional tidak ingin menerbitkan buku yang penuh kesalahan. Naskah yang lemah secara teknis dapat merusak reputasi penerbit sekaligus mengurangi minat pasar.
Contoh Kesalahan yang Umum Diperbaiki Copyeditor
- Penulisan istilah asing yang berubah-ubah
(misal: copyediting, copy editing, copy-editing) - Data tidak lengkap atau tidak konsisten
(tahun penelitian, nama peneliti, dll.) - Kalimat yang terlalu panjang dan berbelit
- Paragraf yang tidak memiliki gagasan pokok
- Penggunaan kata tidak baku
- Format kutipan dan daftar pustaka tidak sesuai gaya penulisan
Dengan memperbaiki hal-hal di atas, naskah menjadi jauh lebih kuat dan efektif.
Kesimpulan
Jadi, apa itu copyediting? Copyediting adalah proses penyuntingan yang memastikan naskah bebas dari kesalahan teknis, konsisten, jelas, dan siap untuk diterbitkan. Proses ini sangat penting bagi mahasiswa, dosen, penulis, serta siapa pun yang ingin menerbitkan buku berkualitas profesional.
Tanpa copyediting, naskah berpotensi mengandung kekeliruan yang dapat menurunkan kredibilitas penulis dan pengalaman membaca. Oleh karena itu, sebelum menerbitkan buku, baik fiksi maupun nonfiksi, pastikan naskah Anda melewati tahap copyediting agar karya Anda tampil terbaik di mata pembaca.